Review IFW 2019+ kelebihan dan kekurangan (artikel 2)

Jakarta. Indonesia Fashion Week 2019 diselenggarakan pada bulan Maret, menjadi pagelaran tahun ke-7 yang disajikan oleh Asosiasi Perancang Mode dan Pengusaha Mode Indonesia, atau Appmi, sejak 2012 dan akan diadakan di Jakarta Convention Center di Senayan, Jakarta Selatan pada 27-31 Maret.

Acara ini menghadirkan ratusan pelaku bisnis fashion dan perancang dari berbagai penjuru nusantara dengan menampilkan 20 peragaan busana, kompetisi dan talk shows serta memamerkan ratusan merek lokal yang kurang lebih menyediakan 280 booth didedikasikan untuk memenuhi kebutuhan busana muslim dengan berbagai jilbab, syal, gamis, dan banyak lagi dan kurang lebih 150 booth menjelajahi konsep ikonik IFW 2019 yang menampilkan keindahan budaya Indonesia seperti Perhiasan, busana kasual modern, kain, batik, dan banyak lagi. Acara ini turut dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perindustrian, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Luar Negeri, UN Global Compact dan Kedutaan Besar negara sahabat. Selain dibidang fashion IFW 2019 menyediakan kuliner yang akan menampilkan masakan tradisional Indonesia, yang dimaksudkan agar dengan adanya kuliner terbaik dari setiap wilayah di Indonesia, pengunjung tidak perlu keluar area pameran untuk mencari makanan, dan pelanggan dapat juga mencicipi beberapa hidangan terbaik yang ditawarkan dari beberapa wilayah di Indonesia.             

Indonesia Fashion Week 2019 mengambil tema “Cultural Values”. Yang dimana banyak menyoroti berbagai budaya Indonesia, menjujung tinggi nilai kebudayaan dan kewirausahaan dari berbagai pihak di Indonesia. Tahun ini, IFW menitikberatkan budaya dari Kalimantan atau Borneo. Fokus menyoroti warisan dekoratif yang kaya yang ditemukan di antara masyarakat di Kalimantan yang sejauh ini cukup diabaikan oleh Industri Fashion secara keseluruhan. Dengan memilih Borneo sebagai inspirasi, diharapkan IFW 2019 ini dapat mendukung pengembangan regionalnya dan menjadikannya lebih bersinar di Fashion dan Mode. Memasukkan budaya di aplikasikan pada kain melalui penggunaan bahan baku seperti kain tenun, songket, dan batik dari berbagai wilayah di Indonesia maupun motif perisai, flora dan fauna Kalimantan yang menginspirasi detail pada desain busana, dan mengubahnya menjadi karya seni adalah aspirasi perancang busana atau designer berpengalaman yang telah berkecimpung di industri fashion selama bertahun-tahun. Mewakili banyak satwa liar di hutan hujan Kalimantan, koleksi IFW2019 dipenuhi oleh pola dan warna suku yang menakjubkan. “Sebagian budaya dan suku-suku Kalimantan merupakan hasil adaptasi, akulturasi dan asimilasi unsur-unsur budaya dari suku-suku yang menempati wilayah Kalimantan, contohnya; sarung Samarinda, sarung tenun Pagatan, benang bintik (batik Dayak Ngaju), kain Sasirangan (Banjarmasin), khasanah budaya yang memukau inilah yang patut kita dukung bersama,” papar Poppy Dharsono, Presiden IFW/ Ketua Umum APPMI dalam acara pembukaan IFW 2019 di JCC.

Sesuai dengan tema “Cultural Values”, keseluruhan rangkaian acara dan interior dikemas sedemikian rupa sehingga bisa menampilkan kekayaan budaya Kalimantan. Mulai dari hewa, yaitu monyet yang suasananya seperti di dalam hutan, dan beberapa koleksi pakaian adat budaya Borneo yang dapat menguatkan identitas Indonesia.

Perhelatan IFW 2019 yang diselenggarakan selama lima hari ini diisi dengan tampilan pakaian modest wear yang menampilkan hijab yang stylish dan dengan design yang premium, Modern Ethnic yang menampilkan perancang Indonesia terkenal dengan design kontemporer dan menarik pada hari pertama. Lalu, hari ketiga yang kami hadiri menampilkan Beautiful Syar’I bertujuan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa pakaian sederhana juga bisa elegan dan indah, ada dua belas designer memamerkan bagaimana busana muslim juga bisa glamor seperti semi- couture. Penggunaan warna-warna trend 2018 masih banyak digunakan pada busana muslim yang dipamerkan. Beberapa designer menampilkan potongan- potongan baju yang tidak sederhana. Lalu, modern contemporer untuk mendapatkan inspirasi dari desain yang tidak terlalu tradisional, dan SHAFIRA  yang berpartisipasi IFW2019 untuk merayakan ulang tahun ke 30 mereka dan meluncurkan koleksi terbaru mereka, yang bertemakan WORLD WANDERER. Secara garis besar Shafira terinspirasi dari arsitektur dan budaya dari 5 negara di Dunia dan menuangkannya dalam koleksinya. Kondisi panggung show dan seluruh audio dan Visual di tata dengan rapih sedemikian rupa untuk menampilkan 30 tahun shafira telah berkarya. Pada hari terakhir, diisi dengan Indonesia Young Fashion Designer Competition (IYFDC) yaitu menampilkan para designer- designer muda yang berkarya dengan memasukkan nuansa Budaya Indonesia, yang diharapkan dapat memajukan dan mengembangkan Fashion Indonesia di kancah dunia. Dan adanya Excotic Culture yang  menghadirkan perancang busana yang berani menjelajahi latar belakang kaya kita dan menuangkannya ke karya seni.

Menurut kami dengan diadakannya Indonesia Fashion Week ini dapat terus diadakan dan semakin tahun semakin banyak para designer muda bertalenta dari Indonesia yang dapat mengeluarkan ide-ide terbaiknya agar diharapkan dapat semakin mengharumkan nama Indonesia di mata internasional melalui industri fashion. Yang dimana  melalui acara ini dapat memiliki satu tujuan yang dapat dituju untuk para pecinta Fashion, dan melalui acara ini juga dapat memperkenalkan, menyoroti, dan mempromosikan model-model Indonesia melalui acara IFW 2019. Namun sayangnya, kami melihat ada beberapa designer khususnya di tema pakaian syar’I sangat terlihat ada beberapa model pakaiannya itu sangat simple, diluar dari pengambilan tema yang difokuskannya, hanya saja pagelaran fashion Indonesia yang besar ini seharusnya bisa lebih menonjolkan sisi budaya Indonesia yang sangat kaya raya. Karena terlihat seperti tidak matang melalui kematangan konsep, tema yang diambil dan eksekusi yang dilakukan. Sangat disayangkan, tapi banyak pula koleksi pakaian yang ditampilkan sangat terstruktur dan terbaca apa yang ingin disampaikan seorang designer melalui koleksinya.

Lalu dari penyelenggaraan memang sudah cukup baik namun kami disini ingin membahas satupersatu hal yang sedikit menggagu dari hal yang kami alami di acara Indonesia fashion Week ini. Diawal dari ticketing masuk kami mengambil yang free tiket ternyata ketika kami sampai disana kami tetap harus membayar sekitar Rp 25.000 karna alasan ada pameran didalamnya , ya memang benar ada pameran yang harus kami lewati untuk masuk ke vanue IFW ,namun ya sudahlah toh hanya segitu. Lalu kami mengantri cukup lama untuk masuk, kaki saya lumayan pegal berdiri apalagi ditambah misalkan yang datang kesana banyak yang menggunakan boots untuk menunjang penampilan mereka termasuk saya karna yang datang ke acara ini kebanyakan pencinta fashion. Ketika sampai di dalam awalnya acara berjalan lancar dan nyaman, namun di tengah acara hingga akhir para penonton dan tamu yang hadir mulai berisik dan Nampak bukan ingin menonton acara fashion mereka sibuk selfie dan berbincang tidak memperhatikan karya baju para designer yang sedang tampil, menurut saya sebagai tamu yang memang ingin menonton acara ini sedikit terganggu , memang ini bkan salah dari panitia penyelenggara acara ini namun saya ingin para penonton agar lebih cermat saja dan tahu tempat anda sedang berada dimana dan menghargai penononton yang lain yang bear-benar ingin melihat acara ini. Kemudian karya karya yang ditampilkan dari beberapa brand bila diwawancara mereka idak memberikan spesifikasi konsep busana yang jelas, sehingga hal itu tidak tersampaikan ke penonton. Menurut kami untuk acara acara seperti ini semoga kedepannya bisa lebih bijak dan para penonton juga lebih saling menghargai. Dan berharap acara ini sebagai ajang memperkenalkan budaya indonesia hingga kemancanegara.

Leave a comment